Konsep masyarakat multikultural
Suatu masyarakat yang memiliki karakteristik
berbeda-beda dengan tingkat deferensiasi dan stratifikasi sosial yang tinggi,
yang didorong oleh latar belakang historis, kondisi geografis dan pengaruh
kebudayaan.
Berikut ini adalah beberapa
pengertian masyarakat mengenai multikultural (majemuk)
a.
Furnival mengemukakan bahwa
masyarakat multikultural merupakan masyarakat yang terdiri atas dua atau lebih komunitas (kelompok) yang secara kultural dan ekonomi terpisah-pisah serta memiliki struktur kelembagaan yang berbeda-beda
satu sama lainnya.
Menurut ilmuwan ini, berdasarkan konfigurasi
(susunannya) dan komunitas etniknya masyarakat majemuk dibedakan menjadi empat kategori sebagai berikut :
1. Masyarakat majemuk dengan kompetisi seimbang
Merupakan masyarakat majemuk yang terdiri atas sejumlah
komunitas atau etnik yang mempunyai kekuatan (jumlah individu dalam kelompok) kompetitif yang kurang lebih seimbang. Koalisi lintas etnik sangat
diperlukan untuk pembentukan suatu masyarakat yang
stabil.
2. Masyarakat majemuk dengan mayoritas dominan
Merupakan masyarakat majemuk yang terdiri atas sejumlah
komunitas etnik dengan kekuatan kompetitif tidak seimbang. Dimana salah satu
kekuatan kompetitif lebih besar daripada kelompok lainnya, atau suatu kelompok
etnik mayoritas mendominasi kompetisi politik
atau ekonomi (???) sehingga posisi
kelompok-kelompok yang lain menjadi kecil.
3. Masyarakat majemuk dengan minoritas dominan
Merupakan suatu masyarakat dimana satu kelompok etnik
minoritas mempunyai keunggulan kompetitif yang luas sehingga mendominasi
kehidupan politik atau ekonomi
masyarakat.
4. Masyarakat majemuk dengan fragmentasi
Merupakan masyarakat yang terdiri atas sejumlah kelompok
etnik, tetapi semuanya dalam jumlah yang kecil sehingga tidak ada satu kelompok
pun yang mempunyai posisi politik atau ekonomi yang dominan. Masyarakat
demikian ini biasanya sangat stabil, tapi masih mempunyai potensi konflik
karena rendahnya kemampuan coalition building.
b.
Dr. Nasikun masyarakat bahwa
masyarakat majemuk (masyarakat
multikultural) merupakan suatu masyarakat yang menganut
berbagai system nilai yang dianut oleh berbagai kesatuan sosial yang menjadi
bagian-bagiannya adalah sedemikian rupa sehingga para anggota masyarakat kurang memiliki loyalitas terhadap masyarakat sebagai suatu
keseluruhan, kurang memiliki
homogenitas (kesamaan) kebudayaan, atau bahkan kurang memiliki dasar-dasar
untuk saling memahami satu sama lain
c.
Pierre L. Van
den Berghe tidak membuat suatu definisi khusus tentang
masyarakat multikultural, tetapi ilmuwan ini menyebutkan beberapa karakteristik
yang merupakan sifat-sifat (ciri-ciri)/ karakteristik dari
masyarakat multikultural sebagai berikut :
1.
Terjadi segmentasi ke dalam
bentuk-bentuk kelompok subkebudayaan yang berbeda satu dengan yang lain.
2.
Memiliki struktur sosial yang
berbagi-bagi dalam lembaga-lembaga yang bersifat nonkomplementer.
3.
Kurang mengembangkan konsensus diantara para
anggota-anggotanya terhadap nilai-nilai yang bersifat dasar.
4.
Secara relative seringkali
mengalami konflik di antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lainnya.
5.
Secara relative, integrasi
sosial tumbuh di atas paksaan dan saling ketergantungan di dalam bidang
ekonomi.
6.
Adanya dominasi politik oleh
suatu kelompok atas kelompok lain.
- Latar Belakang Kemajemukan Bangsa Indonesia.
Bangsa yang multietnik tidak
terbentuk dalam waktu singkat, tetapi melalui suatu proses yang panjang dan
melalui berbagai peristiwa. Kemajemukan dipengaruhi oleh faktor sejarah
persebaran penduduk antar wilayah, keadaan topografi dan jenis mata pencaharian
penduduk. Tiga faktor utama yang mendorong terbentuknya kemajemukan bangsa Indonesia
adalah :
a. Latar Belakang Historis
Dalam pelajaran sejarah, kita telah
mengetahui bahwa nenek moyang bangsa Indonesia sekarang ini berasal dari
Yunani, yaitu suatu wilayah di Cina bagian selatan yang pindah ke pulau-pulau
di Nusantara. Perpindahan itu terjadi secara bertahap dalam waktu dan jalur
yang berbeda. Ada
kelompok mengambil jalur barat melalui Selat Malaka
menuju pulau Sumatera dan Jawa. Sedangkan kelompok lainnya mengambil
jalan kearah timur, yaitu melalui kepulauan Formosa
atau Taiwan disebelah selatan Jepang, menuju Filipina dan kemudian meneruskan
perjalanan ke Kalimantan. Dari Kalimantan ada yang pindah ke Jawa dan
sebagian lagi ke pulau Sulawesi,
maluku dan papua
Sebelum tiba di Kepulauan Nusantara
mereka telah berhenti di berbagai tempat dan menetap dalam jangka waktu yang
lama. Bahkan mungkin hingga beberapa generasi. Selama bermukim ditempat-tempat
tersebut, mengembangkan pengetahuan, pengalaman dan ketrampilan-ketrampilan
khususnya sebelum melakukan perjalanan kembali, misalnya ketrampilan membuat
perahu dan mengenal pengetahuan-pengetahuan kelautan (navigasi) sederhana untuk
dipergunakan selama penjelajahan. Pengetahuan kelautan ini penting, terutama
untuk mereka yang menempuh jalur timur, sebab mereka akan mengarungi laut dan
selat untuk bisa tiba ke daerah baru.
Perbedaan jalur perjalanan, proses
adaptasi di beberapa tempat persinggahan yang berbeda, dan perbedaan pengalaman
serta pengetahuan itulah yang menyebabkan timbulnya perbedaan suku bangsa
dengan budaya yang beranekaragam di Indonesia.
b. Kondisi Geografis
Merupakan suatu kenyataan bahwa Indonesia
adalah Negara yang terdiri atas pulau-pulau yang satu sama lain dihubungkan
oleh laut dangkal yang sangat potensial. Selain itu, bentuk pulau-pulau itu
memperlihatkan reliet yang beranekaragam. Perbedaan-perbedaan lainnya
menyangkut curah hujan, suhu dan kelembaban udara, jenis tanah tata air,serta
flora dan fauna yang berkembang di atasnya.
Perbedaan-perbedaan kondisi geografis
ini telah melahirkan berbagai suku bangsa, terutama yang berkaitan dengan pola
kegiatan ekonomi mereka dan perwujudan kebudayaan yang dihasilkan untuk
mendukung kegiatan ekonomi tersebut. Misalnya nelayan, pertanian, kehutanan,
perdagangan, dan lain-lain. Relief yang tajam dipisahkan oleh laut dan selat,
tentu akan menyebabkan terisolasinya kelompok masyarakat yang telah menvapai
suatu tempat. Akhirnya mereka akan mengembangkan corak kebudayaan yang khas dan
cocok dengan lingkungan geografis mereka.
Dalam hal ini kita semua telah
memahami bahwa lingkungan fisik geografis tidak menentukan kehidupan kebudayaan
manusia. Tetapi hanya memberikan corak kebudayaan saja. Misalnya, di daerah
pertanian yang subur akan berkembang corak kebudayaan masyarakat agraris, di
kawasan pantai akan terbentuk corak kebudayaan masyarakat nelayan dan corak
kebudayaan sesuai dengan kondisi geografis tempat kebudayaan berkembang.
c. Keterbukaan (kontak) Terhadap Kebudayaan Luar
Bangsa Indonesia adalah contoh bangsa yang
terbuka. Hal ini dapat dilihat dari besarnya pengaruh asing dalam membentuk
keanekaragaman masyarakat di seluruh wilayah Indonesia. Pengaruh asing pertama
yang mewarnai sejarah kebudayaan Indonesia
adalah ketika orang-orang India.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Notes :
1. Harap berkomentar sesuai dengan judul bacaan
2. Tidak diperbolehkan untuk mempromosikan barang dan tiada konten porno.
Selamat berkomentar....